Hankam

Jika Anggota TNI-Polri Masuk ke Politik, Harus Mundur dari Jabatannya

SAKSIMATA.CO. JAKARTA. Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono berbagi resep sukses meraih jabatan politik kepada para perwira tinggi aktif TNI dan Polri, di kantor Kementerian Pertahanan Jakarta. SBY juga menegaskan bagi perwira TNI Polri ingin terjun di kancah berpolitikan, harus sesuai aturan yaitu mundur dari jabatan TNI atau Polri (02/06).

"Tetapi ada etika dan aturan. Apa itu etikanya, intinya sudara mundur dari jabatan yang saudara sandang apakah di TNI atau Polri," tegas SBY saat memberi pengarahan.

Dengan melepas atribut di lingkungan TNI atau Polri, maka membuat ruang gerak untuk mencapai jabatan politik kian terbuka. Rakyat pun menurut Presiden akan menilai fair. "Karena tidak lagi dinilai bahwa seseorang itu mengandalkan kekuatan, pasukan dibelakangnya untuk meraih jabatan politik," kata Presiden.

Menurut SBY menambahkan dalam pengarahan dihadapan ratusan perwira TNI Polri, jabatan politik diraih dengan mengandalkan kekuatan dan pasukan militer, maka akan merugikan politisi dari kalangan sipil, dan membahayakan demokrasi.

SBY kemudian mengajak dan menghimbau para perwira aktif itu mencontoh sejumlah purnawirawan TNI dan Polri yang mendirikan partai untuk berjuang di bidang politik hingga saat ini.

"Apa yang dilakukan Pak Edy Sudrajat, Pak Wiranto, Prabowo Subianto dengan mendirikan parpol, adalah jalan yang benar dan tepat dan sah untuk menjadi pimpinan politik," jelas SBY.

 

(Nyo)

TNI AD Kembali Diperkuat Meriam 155MM Asal Korea Selatan

Saksimata.Co. JAKARTA. Daya pukul satuan artileri TNI-AD semakin bertambah gahar. Selain nantinya akan dilengkapi meriam Swagerak kaliber 155mm Caesar asal Prancis, Meriam dengan kaliber serupa asal negeri ginseng telah tiba di Tanah Air.

Sebanyak 18 meriam Kh-179 didatangkan dari Korea Selatan senilai US$944 ribu. Nantinya meriam-meriam ini akan ditempatkan di perbatasan guna melengkapi persenjataan yang telah ada. Turut diborong pula truk penarik meriam tersebut yang juga buatan Korea Selatan.

Kh-179 sendiri dikembangkan oleh KIA Machine Tool Company (sekarang bernama Hyundai-WIA) berdasarkan sistem howitzer tarik M114A1, yang banyak dipergunakan dalam Perang Vietnam. 

Korea Selatan memiliki lebih kurang 1.700 sistem M114A1. Pengoperasian meriam ini sendiri tak banyak berubah dari versi M114A1, dimana butuh dua awak untuk mengubah arah meriam, prajurit awak penembak di kiri memutar roda untuk mengubah arah horizontal (traverse), sementara prajurit di kanan sebagai asisten penembak memutar roda untuk mengubah elevasi vertikal moncong meriam. 

Satu prajurit lagi bertugas sebagai pengarah dan membidik melalui teleskop dengan pembesaran 4x dan dial sight, atau bila diperlukan, mengoperasikan Kh-179 untuk dukungan tembakan langsung (direct fire) menggunakan teleskop khusus lainnya yang memiliki pembesaran 3,5x. Sistem Kh-179 menerapkan dua tabung yang berbeda untuk penahan kejut (hydraulic dampers/ hydropneumatic shock absorber) dan satu tabung lain untuk pengembali kedepan (recuperator), yang dianggap mampu memperpanjang umur pakai meriam. 

Pada saat penembakan, ada pasak yang bisa diturunkan untuk ditanam dan menambah kestabilan penembakan.

Dari segi amunisi, Kh-179 menikmati kompatibilitas dengan munisi NATO dan AS, satu keunggulan dari produk-produk Korea Selatan. Hal ini berarti Kh-179 mampu menembakkan seluruh munisi 155mm termasuk munisi khusus berpendorong roket (RAP: Rocket Assisted Projectiles). 

Jarak jangkaunya adalah 22km, atau 30km apabila menggunakan munisi RAP. Kecepatan tembaknya apabila digunakan secara kontinyu maksimal 4 peluru per menit.



(ARC/Red)