HATE SPEECH JADI BAHAN DISKUSI DI PERPUSTAKAAN DEPOK

 

SAKSIMATA.CO DEPOK : Polemik Surat Edaran (SE) Kapolri terkait ujaran kebencian (Hate Speech) membuat sebagain masyarakat resah, hal ini yang mendorong organissasi Kelompok Kerja wartawan Depok (Pokja) merasa perlu untuk melakukan diskusi agar masyarakat mengetahui dan lebih hati-hati terhadap media sosial (28/11/2015).

Diskusi yang mengangkat tema "Peran Media Sosial terhadap Pembangunan Kota Depok" tersebut, hadir Ainun Chosum sebagai Pengamat Media Sosial dan Komisaris Polisi Teguh Nugroho Kasat Reskrim dari Polresta Kota Depok.

Ainum Chosum mengungkapkan bahwa media sosial ibarat pisau bermata dua di mana penggunaan media dapat memberikan informasi yang baik sebaliknya media sosial juga dapat membawa kita ke ranah hukum apabila kita menggunakan media sosial dengan tidak bijak.

"Media sosial itu ibarat pasar disana ada tetangga,orang tua teman-teman dan orang lain yang tidak kita kenal,itulah mengapa kita harus lebih bijak karena semua yang sudah kita posting adalah milik publik jadi kita harus hati-hati dalam menggunakan medsos,"ujar Ainum Chosum.

Ditambahkan, data terhadap penggunaan media sosial di Indonesia sangat tinggi hal ini di ungkapkan Ainum karena prosentasi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

"Orang indonesia itu lebih suka ngobrol entah itu di warung kopi di ruang publik bahkan di media sosial dari jumlah 255.5 juta masyarakat Indonesia, 72,7 juta pengguna Internet aktif  sedangkan untuk pengguna media sosial sebanyak 74.0 juta pengguna, lalu untuk pengguna perangkat HP itu ada sebanyak 308,2 juta jiwa yang terkoneksi dengan internet," tegasnya.

Sementara itu Kasat Reskrim Kompol Teguh Nugroho menegaskan agar pengguna media sosial agar lebih berhati-hati dalam membuat status baik itu di Face book,Twitter,Path dan lain sebagainya karena apabila terdapat unsur Hate Speech maka siap-siap pengguna berurusan dengan pihak kepolisian.

"Perbuatan ujaran kebencian memiliki dampak merendahkan harkat mertabat dan kemanusiaan ujaran kebencian bisa mendorong terjadinya kebencian baik itu kolektif,pengucilan,diskriminasi, kekerasan dan bahkan pembantaian etnis atau bahkan genosida," ungkap Kasat Reskrim Teguh Nugroho.

Lanjut teguh ada baiknya masyarakat paham apa-apa saja yang masuk dalam katagori ujaran kebencian atau Hate Speech agar masyarat tidak salah dalam menulis status yang dapat berurusan dengan pihak kepolisian.

"Ada 11 unsur yang masuk dalam Hate speech antara lain suku, agama, ras, golongan, warna kulit, etnis, gender, kaum difabel, orientasi sexual, keyakinan dan kepercayaan diharapkan sekarang jangan asal menulis status, karena sesuai dengan undang-undang hukuman untuk hate speech itu 4 tahun penjara," tegasnya.



(Yopi)