Terkait Krisis Ukraina, Rusia Berharap Indonesia Tentukan Posisinya dengan Bijak

Saksimata.Co Depok. RBTH Indonesia berkesempatan untuk mewawancarai Duta Besar Federasi Rusia Mikhail Y. Galuzin setelah berakhirnya diskusi ilmiah yang bertemakan "Krisis Ukrania dan Pengaruhnya di Asia Tenggara" di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat (29/04/2014).

T: Bagaimana menurut Anda mengenai acara yang membahas krisis di Ukraina ini dan sekaligus mempertemukan pihak Rusia dan AS?

J: Saya sangat senang dan mengapresiasi dengan diadakannya acara ini di Universitas Indonesia. Kesempatan diskusi ini sangat penting, khususnya bagi para mahasiswa karena mereka bisa mendengar langsung posisi Rusia terkait isu internasional ini dari pejabat Rusia.

Perang Media: Saat Berita Bukan Lagi Monopoli Barat

Selama ini, kita kerap mendengar pemberitaan mengenai Rusia yang bias dan tidak berimbang. Mereka mengkritik kebijakan Rusia terkait krisis di Ukraina, tapi mereka tidak benar-benar paham inti masalahnya. AS dan Barat menerapkan standar ganda dalam berbagai pemberitaan di media. Mereka mengatakan bahwa Rusia telah mengambil wilayah Semenanjung Krimea. Padahal, yang terjadi tidaklah demikian.

T: Apa pendapat Anda terkait sanksi yang diberikan kepada Rusia?

J: Sanksi terhadap Rusia sangatlah menjijikkan. Barat dan AS merasa bahwa mereka lebih paham soal perdamaian; mereka merasa sebagai polisi dunia. Selain itu, mereka juga kerap merasa lebih toleran dari yang lain dan merasa lebih mengerti soal keadilan.

Memutuskan hubungan ekonomi dengan Rusia bukanlah hal yang bijak. Mereka lupa bahwa bagaimana pun kita saling bergantung dan membutuhkan satu sama lain.

T: Dalam diskusi tadi, sempat dibahas mengenai peran Indonesia dalam menanggapi krisis yang terjadi di Indonesia. Menurut Anda, bagaimana Indonesia harus menyikapi ini?

J: Saya tidak bisa dan tidak mau mengharapkan apa-apa dari Indonesia. Hanya saja, saya berharap, dari lubuk hati yang paling dalam, semoga Indonesia bisa menentukan posisinya dengan bijak.

Saya menghargai pernyataan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa yang beliau sampaikan bulan lalu. Beliau mengatakan bahwa Indonesia berpedoman pada prinsip penghormatan kedaulatan dan integritas wilayah sebagai dasar hubungan antar bangsa. Ini adalah posisi yang  dipegang teguh oleh Indonesia dalam menghadapi berbagai situasi serupa di berbagai kawasan.

(Sumber : RBTH).