KML; Pangeran Diponogoro,Perang Jawa dan masalah Kepemimpinan Nasional

SAKSIMATA.CO DEPOK- Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dan Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI) bekerja sama menggelar acara Koentjaraningrat Memorial Lecture (KML) yang menampilkan tema Pangeran Diponogoro,Perang Jawa dan masalah Kepemimpinan Nasional (19/05/2014).

Karsono H Saputra, M.Hum menerangkan dengan singkat sejarah Pangeran Diponegoro yang lahir pada (1785-1855) Jumat Wage dimana pada perhitungan jawa Mempunyai dua sisi kepribadian yg sangat  berkaitan yaitu sangat keras seperti baja dan lembut sehingga dapat di buat tali,pangeran diponogoro adalah seorang santri tetapi pangeran diponogoro senang sekali datang ketempat-tempat yang sepi untuk bertapa

"Tidak ada sosok yang sama dengan kepribadian pangeran Diponegoro pada saat ini ,karena memang berbeda dengan masanya,"Karsono H Saputra, M.Hum

Menurut Akademisi dari kaca mata Antropologi Bagaimana Pangeran Diponegoro hidup  dari dimensi yang berbeda dengan dunia sekarang
Lebih baik saya mengalah dari pada saya ditangkap lalu saya melawan hal itu akan memalukan bangsa Belanda yang besar tetapi Pangeran Diponegoro adalah seseorang yang pintar dan dikenang sampai dengan hari ini Dr Tony Rudyansyah,M.A.

"Kepemimipinan itu merupakan bawaan dari lahir,Posisi Diponegoro diawal abad sekarang merupakan tokoh dizamannya ini merupakan  tokoh yang tidak menentang akan peradaban dan perdagangan yang ada pada saat itu,karena
Pangeran Diponogoro dapat menyerap aspirasi dan tekanan dari pejajah pada saat itu,oleh sebab itu Pangeran Diponegoro dianggap sebagai ratu adil yang dapat membawa masyarakat jawa ke zaman ke emasan,"Dr Tony Rudyansyah,M.A

Sedangkan Prof Ramsay Carey, Mengungkapkan Pentingnya otobiografi Pangeran Diponegoro yang dikenal dengan nama Babad Diponegoro,Prof Ramsay Carey juga menceritakan bagaimana munculnya Ratu Adil akan tetapi tidak ada satupun. Yang menampilkan figur kuat yang memiliki wibawa dan pengaruh kuat seperti Pangeran Diponegoro.

"Babad Diponegoro adalah sebuah mahakarya yang layak disejajarkan misalnya dengan buku catatan Oliver Cromwell,negarawan besar Inggris yang hidup antara abad ke 16 dan 17 atau dengan buku harian deklarator kemerdekaan dan presiden pertama bulan juni 2013 naskah Babad Diponegoro bertuliskan aksara pegon (tulisan jawa berhuruf Arab) diterima Komite Penasehat International Unesco sebagai salah satu dari 299 naskah dari seluruh dunia yang sudah dimasukan dalam daftar Ingatan Kolektif Dunia, Sayangnya pengakuan dunia ini tidak dibarengi dengan Perhatian yang memadai dari Pemerintah Indonesia Sendiri terhadap salinan asli naskah bersejarah itu,yang kini berada dalam kondisi tak terawat dan nyaris hancur jadi abu ditempat penyimpanannya diperpustakaan Nasional,"ungkap Prof Ramsay Carey



(Yopi)