Cegah Paham Bahaya ISIS, MUI Sindangsari Gelar Tablig Akbar

Acara Tabligh Akbar ini dibuka langsung oleh Ust. Nandi Ketua MUI Desa Sindangsari yang dalam sambutannya menyampaikan mewaspadai akan adanya aliran sesat yang mengatasnamakan Islam, salah satunya Paham ISIS.

“Antisipasi bahaya ISIS dengan cara meningkatkan keimanan dan banyak memdekatkan diri kepada Alloh SWT melalui tholabul ilmi seperti acara ini. Sekarang ini banyak aliran sesat yang mengatasnamakan Islam yang harus diwaspadai, termasuk gerakan ISIS. Momen ini adalah kesempatan untuk mengetahui bagaimana ISI meruntuhkan aqidah kita, karena seseorang bisa terjerumus atau tergelincir karena ketidaktahuan”.

Tabligh Akbar menghadirkan narasumber Ust. Sufyan Tsauri, desertir Brimob yang kemudian hijrah menjadi Pendak’wah. Acara ini dihadiri ratusan warga Dusun Sindanglaya, Desa Sindangsari Kec. Sukasari, terutama Ibu-Ibu yang mengikuti dengan antusias, hadir juga Aparatur Pemerintahan Desa Sindangsari, dan Tokoh-tokoh masyarakat lainnya seperti Ketua MUI Sindangsari, DKM, dan wakil dari ormas Islam, seperti HTI.

Ade Sopyan, Kepala Desa Sindangsari dalam sambutannya mengatakan, gerakan radikalisme jangan sampai masuk ke pondok-pondok dan sekolah-sekolah sehingga harus dipahami ciri-ciri ajaran sesat tersebut. Beliau meminta agar masyarakat yang menemukan ajaran sesat yang menyimpang untuk segera melaporkan kepada aparat desa dan MUI setempat.

Sementara Ust. Sufyan Tsauri dalam ceramahnya menjelaskan perbedaan ibadah puasa dengan ibadah lainnya, bahwa ibadah puasa itu tidak terlihat namun nilainya hanya Alloh SWT yang menilainya.

Ustad Sofyan Tsauri juga menjelaskan ciri-ciri dan penyimpangan gerakan Jihad yang dilakukan oleh kelompok ISIS yang sudah merusak Jihad itu sendiri, serta memberikan kunci untuk terhidar dari Paham ISIS yaitu dengan cara meningkatkan dan meyakini serta melaksanakan rukun Islam dan Rukun Iman.

“Kita berpegang pada keimanan yang global, cukup kita meyakini dan melaksanakan rukun iman dan rukun islam dan tidak usah mempersulit ajaran Islam itu sendiri. Gerakan takfiri oleh musuh-musuh Islam dijadikan citra buruk terhadap gerakan-gerakan Islam atau jihad”.

Gerakan jihad yang awalnya bertujuan membebaskan kaum muslimin tersusupi oleh kelompok yang mudah mengkafirkan (takfiri) sehingga merusak jihad itu sendiri, dan takfiri ini telah sampai di tanah air kita ini. Latar belakang masyarakat kita yang telah lama dijajah oleh penjajah Belanda dan rendahnya pendidikan Islam pada zaman orde lama dan orde baru menyebabkan pemahaman umat jauh dari Islam, jadi mestinya umat ini dikasihani dan dibina agar mengenal Islam bukan malah dikafir-kafiri. Imbuhnya.

Adapun ciri-ciri kelompok Takfiri seperti ISIS, antara lain:

Pertama Menghukumi masyarakat kita yang mayoritas Islam ini sebagai masyarakat jahiliyah karena kurang pemahaman Islamnya. Alih-alih membina atau mendakwahkan untuk meluruskan pemahamannya kelompok ini malah lebih senang mengkafirkan masyarakat secara umum. Sehingga kelompok takfiri sangat berhati-hati makan daging yang umum beredar karena sembelihannya dianggap tidak halal.

Kedua Takfir takyin (pengkafiran individu), terutama terhadap orang yang ada di lembaga pemerintahan seperti polisi dan tentara. Sehingga banyak kejadian anak perempuan yang mengaji di kelompok ini yang orang tuanya aparat pemerintah tidak menjadikan orang tuanya sebagai wali nikah, sehingga dinikahkan secara diam-diam oleh ustadznya.

Ketiga Kaidah "barang siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir, atau ragu dengan kekafirannya maka ia termasuk kafir juga". Kaidah ini benar jika orang tersebut tidak mengkafirkan orang yang jelas-jelas kafir menurut nash seperti fir'aun dan ahlul kitab, namun kaidah ini diterapkan oleh kelompok takfiri kepada orang yang tidak mengkafirkan aparat pemerintah seperti kepolisian, tentara dan anggota DPR maka ia ikut divonis kafir.

Pada sesi tanya jawab, muncul pertanyaan dari Samin warga Desa Sindangsari, dalam hadits disebutkan ada 72 golongan yang sesat dalam Islam, bagaiman kita bisa membedakan agar selamat dari golongan sesat tersebut.

Ust. Sofyan mengatakan dalam hadits iftiroq (tentang perpecahan) disebutkan bahwa Islam nantinya terbagi atas 73 golongan dan hanya satu yang masuk surga, yaitu golongan ahlus sunnah wal jamaah.

“kita tidak boleh membatasi golongan ini didasarkan pada kelompok jamaah atau organisasi tertentu saja. Kadang benderanya bisa jadi PKS, atau HTI atau NU atau muhammadiyah dan lainnya, semuanya dapat termasuk golongan ahlus sunnah. Kelompok itu dikatakan sesat jika rukun islam dan rukun imannya berbeda”. Papar Ust. Sofyan di sesi akhir acara.